Kita pernah mereka-reka, sehangat apa pelukan ini mampu menyisakan dekapnya, saat rindu hanya menjadi buah tangan dari perpisahan kita yang sementara.
@___dy
Kepada rindu yang menebal di setiap waktu; di sini ada airmata dan detak nadi yang begitu nyeri, ketika kesunyian luruh bersama dengan kegelisahan.
Di kedai kopi ini, ditemani hujan yang menari, aku selalu tabah menantimu dengan gigil rindu yang semakin menggebu.
Serupa perahu usang yang sarat akan luka, kesunyian telantar di antara barisan rindu yang kian menua.
Maka, kubiarkan saja rindu ini tak mampu terdekap, serupa coklat panas dan gula di dasar gelas yang telah mengendap.
Sebelum kau memejam, sesekali, hangatkanlah rindu ini, kelak, ketika terbangun nanti, aku punya alasan untuk tidak menangisi diri sendiri.
Apa yang sebenarnya kita tunggu? Rindu yang pernah tertabur telah merimbun, tuailah! Aku tak ingin lama berteduh di bawahnya.
Sudah, lanjutkan saja sisa perjalanan ini, sampai pada kisah di mana kita harus berpisah untuk sementara waktu, lalu, siapakah yang lebih dulu pulang dengan bersimbah rindu?
Dan segala sisa derai hujan tadi malam, tempias pada kesunyian yang belum meredam, sebab, di sini masih ada hati yang terlalu lama digenangkan oleh kerinduan.
Nyeri ini, puan; adalah muasal dari getah pertikaian rindu yang tak sempat kita tuntaskan.