Di kedai kopi ini, ditemani hujan yang menari, aku selalu tabah menantimu dengan gigil rindu yang semakin menggebu.
Dan ketika hatimu memilih untuk pergi, kelak, kenanglah aku sebagai hujan; rinai yang pernah membasahi harimu dengan rindu.
Kepada hujan, biarkan rindu ini basah kuyup menantikan pertemuan, biarkan ia menggigil kesakitan. Sebab, hanya ini yang mampu aku lakukan.
Satu Kata Satu Rasa
Pada derai hujan, ada retak perpisahan yang tak lagi mampu kita eratkan. Berbahagialah, jika memang ini keyakinan yang sudah kau putuskan.
Dan rintik hujan pun tiada henti mendentingkan rindu pada hati yang masih diselimuti kesunyian.
Satu Kata Satu Rasa
Hujan di awal juni, sebaris kata telah terjanji, pada genggaman dua hati; —kita akan saling melengkapi.
Detak Kenangan Bahagia

Karena ada beberapa permintaan dari teman-teman, maka, puisi “Detak Kenangan Bahagia” kembali saya posting disini. Selamat membaca. Salam.

——————————————————-

Senja itu, diberanda rumahmu, kita ditemani denting gerimis,—dan kamu terdiam dalam tangis, saat kita tak mampu lagi untuk mempertahankan apa yang kita sebut dengan cinta.

Ya…, kita harus menyudahi semua ini,
ah…, rasanya baru kemarin senyum indah itu hadir disini,
senyum yang dapat menghilangkan sepi,
tidak seperti saat ini.

Dulu kamu selalu merindukan turunnya hujan,
ini kali, hujan hanya meninggalkan kenangan,
kenangan yang menyisakan duka-duka yang menyakitkan,
—dan doa-doa yang saling menabahkan.

Biarlah, semuanya menjadi denyut di dada, bukan sebagai tetes airmata, namun sebagai debar jantung yang mendetakkan kenangan bahagia.

Jakarta, 2009

Ada jejak kenangan yang tertinggal pada redanya hujan, atau mungkin, ia tak akan pernah beranjak dari hati yang telah kehilangan harapan.
Sebab mencintaimu, serupa memungut tetesan hujan, yang tidak pernah Tuhan jatukan kepada siapapun juga, dan aku, ingin menadahnya, meski harus terluka.
Hujan dan Rindu

Selalu ada cerita tentang hujan yang jatuh diberanda rumahku, serupa merindukanmu, yang selalu mendetakan denyut nadiku.

@todyumna