Adalah kita, para perindu yang mengulang kecupan di tengah derai hujan, hingga bisingnya desahan—tak lagi kita hiraukan.
Dan daun yang berguguran, menjelma perahu yang bergerak perlahan, barangkali, akan membawa cinta pulang, sebelum senja benar-benar tenggelam.
Serupa perahu usang yang sarat akan luka, kesunyian telantar di antara barisan rindu yang kian menua.
Maka, kubiarkan saja rindu ini tak mampu terdekap, serupa coklat panas dan gula di dasar gelas yang telah mengendap.
Sebelum kau memejam, sesekali, hangatkanlah rindu ini, kelak, ketika terbangun nanti, aku punya alasan untuk tidak menangisi diri sendiri.
Dan ketika hatimu memilih untuk pergi, kelak, kenanglah aku sebagai hujan; rinai yang pernah membasahi harimu dengan rindu.
Apa yang sebenarnya kita tunggu? Rindu yang pernah tertabur telah merimbun, tuailah! Aku tak ingin lama berteduh di bawahnya.
Engkaulah, kekasih, yang begitu dekat dengan detak jantungku, hingga di setiap embusan napasku, selalu tersebut namamu.
Sudah, lanjutkan saja sisa perjalanan ini, sampai pada kisah di mana kita harus berpisah untuk sementara waktu, lalu, siapakah yang lebih dulu pulang dengan bersimbah rindu?
Dan segala sisa derai hujan tadi malam, tempias pada kesunyian yang belum meredam, sebab, di sini masih ada hati yang terlalu lama digenangkan oleh kerinduan.