Februari

Ini bulanmu, bulan segala cinta yang melebur dalam keseluruhanmu.

Ini bulanmu, bulan di mana puisi selalu ada kata baru—saat kita saling jatuh cinta lagi.

Dan ini, bulanmu; bulan yang menjelma napas dan denyut nadi, membuat kita mati—jika tak saling melengkapi.

Sampailah kita di ujung jalan, dimana cinta harus tersingkirkan, entah karena kesalahpahaman, atau kita, sudah terlalu muak dengan segala ketidakpastian.
Ketika cerita cinta tak lagi terbaca, mungkin kau sedang terlupa, atau, sedang menerka-nerka; di bagian manakah kita pernah menjatuhkan cinta.
@___dy
Kita pernah mereka-reka, sehangat apa pelukan ini mampu menyisakan dekapnya, saat rindu hanya menjadi buah tangan dari perpisahan kita yang sementara.
@___dy
Garis Tangan

Sebab, perpisahan hanyalah masalah waktu, kapan pun itu, nikmati saja segala bahagia yang ada—selagi kita bersama.

Dan tak perlu kau menerka-nerka; seberapa panjang garis tangan menyatukan cinta kita untuk selalu bersama, cintai saja aku, setulus yg kau mampu.

Percayalah, senja selalu datang tepat waktu, tak perlu kau tunggu, serupa bahagia kita—saat pertama kali jatuh cinta.
Adalah engkau, cinta yang datang dengan manja, serupa kanak yang meminta gulagula—dengan pipi merona merah muda.
Dari sela-sela bulumatanya, seakan senja mengintip dan menerka-nerka; siapa yang lebih dulu merasakan nyeri setelah perpisahan ini.
Kepada rindu yang menebal di setiap waktu; di sini ada airmata dan detak nadi yang begitu nyeri, ketika kesunyian luruh bersama dengan kegelisahan.
Di kedai kopi ini, ditemani hujan yang menari, aku selalu tabah menantimu dengan gigil rindu yang semakin menggebu.