Aku ingin membaca cinta bahagia di setiap kerut wajahmu, sampai, tak ada lagi yang aku cemaskan untuk menghadapi kematian.
Dan di tengah derai hujan, satu demi satu, ciuman kita jatuh pada bibir yang begitu sederhana, sesederhana kita yang saling mencinta.
Bagimu, cinta itu, suatu kebutuhan atau keinginan? | entahlah, yang aku tahu; aku mencintaimu setulus yang kumampu.

Terkadang, bahagia dan duka begitu dekat dengan kematian, sampai pada akhirnya, cinta tiada yang beda dihadapanNya.


Dan kehilangan, hanyalah masalah hitungan masa, serupa bahagia yg kapan pun biasa tiada.

Kutipan Buku Kumpulan Puisi KPBU Hal. 66

Jangan pernah mengulur lengan, jika hanya memberi kekosongan yang kau samarkan menjadi pelukan.

~ @dqueen__

139 plays

karenapuisiituindah:

Seperti janji saya di postingan tadi siang, inilah salah satu puisi dalam buku Kotak Perak Berpita Ungu.

Tak Mengenal Arti Tiada - Tody Pramantha

Dirimu, adalah puisi yang dituliskan Tuhan di tanganku,
larik demi larik,
indah bersembunyi di balik aksara rindu.

Aku hanya bisa terdiam mengingatmu.
Memendam,
apa yang seharusnya dipendam.
Lalu, bersiap untuk kehilanganmu.

Jika nanti kita dituliskan untuk tidak bersama,
Kau hanya perlu mengingat satu hal tentangku:

“Sayang, cinta untukmu tak mengenal arti tiada,
dan tak pernah usai menemukan tepinya.”

~ @___dy

3 plays

“Puisi yang Abadi”

Puisi ini ada di buku “Kotak Perak Berpita Ungu”

Rindu Kian Menua (KPBU Hal. 17-18)

Rindu ini kian menua,

renta didera sunyi yang tak mengenal masa.

Dan hati,

tak lagi mampu menahan laju sang waktu

yang berputar tanpa gentar,

bergeletar pada dinding-dinding sepi

yang tak mampu lagi aku takar.

Kekasih,

tidakkah kau mendengar;

terengah-engah aku merapal namamu

dalam setiap doa.

Kelak dalam damba,

sua lekas bergegas menghampiri kita.

(semoga)

~ @___dy

Mengalir, Sepasti Takdir (KPBU Hal. 25-26)

Kelak,

kita sama-sama menatap dari kejauhan,

dan saling merapal doa untuk segala kebaikan.

Sebab,

kesedihanmu dan kecemasanku tak lebih dari sepasang kawan,

beriringan tanpa pernah tahu akhir tujuan.

Karena kita, tak lagi saling menggenggam,

engkau menjelma derai hujan—tak reda di balik awan,

dan aku,

menjadi tanah—setia menyerap rinaimu dengan tabah.

Kepada masa silam;

biarlah sudut mata ini terus membasah oleh degub-degub kenangan getir,

deras mengalir,

sampai titik nadir—sepasti takdir.

~ @___dy

(Buku Kumpulan Puisi) Kotak Perak Berpita Ungu

image

Segera terbit, “Kotak Perak Berpita Ungu” buku kumpulan puisi saya yang kedua.

 

Pada buku ini, saya bersama Dqueen (@dqueen__) mencoba menceritakan kembali kisah-kisah cinta yang bahagia juga duka yang terbungkus dengan indah dalam bentuk puisi, entah telah bersepakat atau tidak, kami telah menyajikan semua puisi yang terlahir dari gejolak rasa yang serupa dan rasa yang terlahir dari romantika di sekitar kami.

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah perpaduan antara foto, ilustrasi, sampul dan tata letaknya yang menyajikan keelokan estetika tersendiri, tidak hanya parade kata semata.

Dan pada akhirnya, kami mengajak para pembaca untuk membuka sekotak puisi ini. Jangan lupa, lepaskan dulu simpul pita ungunya. Bahagia dan duka kadang terbungkus dalam ruang yang sama. Buktikan saja.

 

Kotak Perak Berpita Ungu

- Kata pengantar:

  • Oddie Frente (@oddie__) — Penulis buku “Cemburu itu Peluru” dan salah satu penyair dalam Pertemuan Penyair Nusantara ke-6 Jambi, 2012.

- Testimoni:

  • Jasper Valentino (@JvTino) — penulis buku “Sentintapena”

  • Tia Setiawati (@TiaSetiawati) — penulis buku “karenapuisiituindah”

Untuk mendapatkan buku ini, silakan hubungi kami di: 0812 570 30 700 atau melalui e-mail: buku.kpbu@gmail.com bisa juga dengan cara mention akun twitter kami: @___dy dan @dqueen__