Letakkanlah tanganmu di dadaku, rasakan debarnya, bila jantung ini tak berdetak lagi, maka, akan kupastikan, namamu yang akan kusebut untuk terakhir kali, sebelum meregang nyawa ini.
Ada rindu yang tercecer entah tersimpan di mana, mungkin pada pesan pendek yang sedang kutulis, hanya saja aku ragu untuk mengirimkannya.
Sebab perpisahan, hanyalah cerita yang tak pernah habis untuk dituliskan.
@___dy
…dan aku, sedang melacurkan rindu pada puisi yang tak pernah selesai kutulis.
@___dy
Ada suara rindu yang mengerang, melolong pada seluruh sudut hati, semoga saja kau tak tuli.
@___dy

Dan kini, kenanganku sedang menghimpun keping-keping luka—yang dulu kau pecahkan dengan kata-kata.

Rebahlah di atas puisiku, kelak, kau akan mengerti; bagaimana rasanya nyeri—memeluk rindu ini sendiri.
Pada jalan sepi setelah hujan, ingatanku riang bermain di air yang menggenang, berkecipak, hingga cipratnya membasahi kenangan.
Kamu jatuh cinta pada puisiku, dan aku, jatuh hati pada matamu.
Cinta ada di mana? Saat Februari baru saja berakhir, sebab rindu, lebih dulu sampai di ujung bibir, menanti ciuman-ciuman panjang yang membawa segalanya di titik nadir, sebab, kisah kita tidak benar-benar tersingkir.
Control Room, Studio 2 RCTI - 1 Maret 2013